CURUG SURODIPO

Bila saya sebut Kota Temanggung , yang terlintas di benak anda pertama kali pastilah tembakau berkualitas tinggi. Ini tak mengherankan karena kota ini sejak dari zaman kolonial memang terkenal sebagai daerah penghasil tembakau yang berkualitas tinggi. Letak kabupaten yang masih masuk provensi Jawa Tengah ini berada di kaki gunung Sindoro Sumbing Prahu yang memang cocok untuk membudidayakan tanaman sejenis Tembakau. Tapi selain terkenal sebagai penghasil tembakau terbaik , kota ini juga terkenal akan pemandangan alam pegunungan yang sangat indah. Kontur perbukitan dan jalan yang naik turun menciptakan tempat tempat menakjubkan seperti Kledung Pass misalnya. Panorama alam dari daerah ini tidak diragukan lagi keindahannya.
 Namun , tak banyak yang tahu pula bahwa kontur perbukitan dan pegunungan dari kabupaten ini juga menghasilkan beberapa air terjun yang sangat indah dan menakjubkan. Salah satunya adalah air terjun yang berada di barat laut dari pusat kota temanggung ini. Nama air terjun ini adalah Curug Surodipo. Wah mendengar namanya aja terasa begitu unik kan kawan?seperti nama seorang bangsawan jawa gitu…memang tidak salah sih karena penamaan air terjun ini sendiri erat kaitannya dengan salah satu bangsawan dari keraton yogyakarta yang juga merupakan pahlawan nasional yang cukup terkenal Pangeran Diponegoro…

SEPENGGAL KISAH DARI “SURODIPO”

  Nama Surodipo sangat erat kaitannya dengan Pangeran Diponegoro. Surodipo adalah  salah satu pengikut setia Pangeran Diponegoro. Ia pernah dipercaya sebagai panglima perang saat melawan tentara belanda (1825-1830). Saat pecah perang Jawa , Surodipo pergi mengungsi ke daerah Wonoboyo. Di Desa Tawangsari inilah Surodipo membangun benteng pertahanannya. Dan Di tempat ini pula, Pangeran Diponegoro mengumpulkan para panglima perang dan pengikutnya untuk menyusun siasat perang gerilya yang sangat melegenda itu.
 Surodipo mengalami beberapa kali pergantian nama dalam perjalanan hidupnya, hanya saja karena beliau bukan dari kalangan keluarga bangsawan utama, namanya hampir tidak tercatat dalam babad yang ditulis oleh sastrawan pada waktu itu. Kalaupun ada yang mencatat namanya hanyalah saat beliau memegang jabatan tertinggi di kraton Ngayogyakarta, itupun tidak menjelaskan latar belakang Surodipo secara rinci.
Riwayat Surodipo justru ditemukan dalam babad (biografi) yang ditulis oleh Pangeran Diponegoro saat beliau berada dalam pengasingan di Menado. Kisah dalam biografi tersebut menggambarkan kedekatan yang sangat mendalam antara Pangeran Diponegoro dengan Surodipo, bahkan beberapa hal yang paling rahasiapun dibeberkan secara gamblang. Nama-nama yang pernah digunakan Surodipo adalah sebagai berikut :
1.  Raden Joyosentiko, nama ini dipakai ketika masih menjadi abdi kepercayaan Pangeran Adipati Anom (ayahanda Pangeran Diponegoro, kelak HB III).
2.  Tumenggung Sumodipuro, nama ini dipakai ketika menjabat Bupati Japan (Mojokerto). Beliau memperoleh kepercayaan menjadi bupati karena jasa-jasanya ketika muncul pemberontakan Sepoy, dan juga karena jasanya dalam proses pergantian pucuk kekuasaan dari HB II kepada HB III.
3. Raden Adipati Danurejo IV (Patih Danurejo IV), nama jabatan tertinggi yang dicapai dalam karir politik Surodipo. Pengangkatan dalam jabatan ini diraih karena usul John Crawfurd (Residen Yogyakarta) dan didukung oleh Pangeran Diponegoro. Beliau memegang jabatan ini dalam kurun waktu lebih dari 30 tahun (1813-1847),  adalah waktu yang sangat lama untuk jabatan politik kenegaraan.
4. Pangeran Kusumoyudo, nama kehormatan anugerah dari pemerintah Hindia Belanda sebagai penghargaan atas prestasi dan jasa-jasa Patih Danurejo IV selama menjalankan tugasnya. Penghargaan tersebut diberikan saat dilaksanakan acara serah terima jabatan (purna tugas) Patih Danurejo IV. Selanjutnya jabatan Patih Ngayogyakarta digantikan Tumenggung Gandakusuma dengan memakai nama jabatan Raden Adipati Danurejo V (Patih Danurejo V)
5. Surodipo, nama yang dipakai setelah terbebas dari urusan pemerintahan dan menjadi rakyat biasa yang berbaur di tengah-tengah masyarakat.  Pada jamannya dulu nama yang satu ini sangat populer di kalangan masyarakat jawa. Menurut cerita tutur yang berkembang di masyarakat, Surodipo sering berpindah-pindah dari tempat yang satu ke tempat yang lain.
  Pergaulan Surodipo sangat luas di kalangan masyarakat bawah, tetapi hampir tidak ada yang mengetahui Surodipo adalah mantan penguasa tertinggi dalam pemerintahan di Kasultanan Yogyakarta, karena Surodipo sendiri tidak pernah menceritakan masalah tersebut kepada orang lain.

Berdasarkan beberapa bukti sejarah dan cerita tutur dari para keturunannya yang tersebar di berbagai tempat, ada dugaan kuat Surodipo menghabiskan masa akhir hidupnya di kawasan Gunung Prahu Kabupaten Temanggung. Di kawasan ini beliau mendirikan pesantren untuk menyebarkan agama Islam. Untuk mengenang kesejarahan Surodipo, Pemerintah Kabupaten Temanggung mengabadikan nama Surodipo sebagai nama tempat obyek wisata air terjun yang semula bernama Curug Trocoh menjadi Curug Surodipo.


petilasan KI SURODIPO

  letak air terjun nan cantik ini berada di Desa Tawangsari , Kecamatan Wonoboyo , Kabupaten Temanggung. Kecamatan Wonoboyo sendiri hanya dapat di akses dari arah timur melalui jalan Raya Parakan-Weleri atau melalui Kecamatan Kandangan-Jumo. Bagi yang datang dari arah selatan sebaiknya agan lewat Jalan Raya Parakan-Weleri. Untuk lewat jalan ini agan harus menuju ke Kecamatan Parakan terlebih dahulu.  Parakan sendiri adalah sebuah daerah yang masih dalam naungan Kabupaten Temanggung dan berjarak sekitar 15 km  dari pusat kota  alun-alun Temanggung. Dari Alun-alun kota Temanggung ini anda harus berkendara sekitar setengah jam ke arah barat.

Bagi kawan yang datang dari arah utara anda bisa mengakses Jalan Raya Parakan-Weleri melalui kota Weleri. Tapi jika kesulitan , saya sendiri menyarankan bagi anda semua untuk terlebih dahulu menuju kota Temanggung. Karena menurut saya pribadi , untuk menuju ke daerah Curug Surodipo berada ; yaitu Kecamatan Wonoboyo lebih mudah aksesnya lewat Alun-alun kota Temanggung. Dari alun-alun kota Temanggung , anda bisa lewat Jl.Bulu-Parakan atau Jl.Ajibarang-Secang. Yang pasti ke dua rute jalan dari alun-alun kota Temanggung ini sama-sama membawa anda menuju Parakan

Oke…setelah berkendara dari alun-alun kota Temanggung ke Parakan , anda akan menjumpai Pasar Parakan yang berada di sebuah tikungan dengan banyak persimpangan yang merupakan pusat dari kota Parakan. Untuk masuk ke Jl. Parakan-Weleri , dari pasar Parakan ini mengambil ke arah Weleri dengan melalui Jl. Brigjen Katamso. Jalan ini terletak di kanan jalan setelah tikungan pertigaan Pasar Parakan. Terus ikuti jalan ini hingga di ujung jalan Parakan-Weleri anda akan temui pertigaan jalan yang telah masuk di daerah Ngadirojo dengan sebuah tugu yang berdiri di tengah jalan. Di sini anda harus belok ke kiri untuk menuju daerah kecamatan Wonoboyo. Di perempatan kedua setelah pertigaan Ngadirojo , anda harus belok ke kanan mengikuti jalan aspal yang cukup bagus. Terus ikuti jalan ini dan jangan berbelok kemanapun dan anda akan sampai di daerah Kecamatan Wonoboyo. 

Tapi jangan kaget ya brooo kalo jalan menuju Wonoboyo ini sebagian besar hanya selebar 1 meter lebih dan lebih banyak melewati desa dan pemukiman penduduk…malah menurut saya sendiri , daripada di sebut sebagai jalan raya  jalan menuju Wonoboyo ini lebih tepat disebut sebagai Jalan Kampung. Cukup membingungkan juga sih bagi yang pertama kali ke sini..untuk itu agar tidak bingung  anda cukup berpedoman pada desa-desa yang akan dilalui dari Ngadirojo sampai Tawangsari , Wonoboyo. Rute ini melewati Desa Ngadirojo-Desa Gondangwinangun-Desa mangunsari-Desa Candiroto-Desa Krawitan-Desa Patekan-Desa Kebonsari-Desa Rejosari-Tawangsari.
Sesampai di Desa Tawangsari , anda harus berkendara mengikuti jalur ke barat desa. Setelah keluar dari desa ini dan melewati sebuah jembatan kecil , anda akan menjumpai sebuah gapura berada di kanan jalan dengan papan penunjuk arah menuju Curug Surodipo. Anda pun telah sampai ke pintu gerbang menuju lokasi air terjun nan cantik ini. Tak ada retribusi resmi untuk masuk ke lokasi wisata , namun biasanya penduduk Desa Tawangsari sering berjaga di gapura ini dan meminta pengunjung membayar sejumlah uang untuk sekedar mengisi kas desa.

gapura masuk wisata surodipo

Selanjutnya , perjalanan bisa di lanjutkan dengan jalan kaki atau berkendara dengan motor dari gapura ini. Bagi anda yang membawa mobil saya sarankan untuk berjalan kaki karena jalan dan medan yang dilalui menuju tempat parkir terakhir yang terletak di atas bukit sangatlah terjal. Anda bisa memparkirkan mobil anda di sebuah lapangan yang terletak tidak jauh dari gapura. Begitu juga bagi anda yang membawa motor dan berniat meninggalkannya dibawah , anda pun bisa memparkirkannya di lapangan ini. Biasanya ada petugas parkir yang berjaga. Tapi ada kalanya tak ada yang berjaga di lapangan ini. Jadi saya sarankan untuk membawa kunci pengaman tambahan untuk motor atau mobil anda bila berniat meninggalkannya di sini. Jika anda ingin lebih amannya lagi , anda juga bisa menitipkan kendaraan yang anda bawa di rumah-rumah penduduk Desa Tawangsari.
Naaaahhhhh….untuk anda yang membawa motor dan berniat membawanya sampai tempat parkir , anda pun harus extra hati-hati. Karena kondisi jalan selepas gapura ini bukan lagi aspal yang halus. Melainkan berganti dengan batu-batu kecil dan sedang yang ditata disepanjang jalur menaiki bukit membentuk jalan berbatu yang bisa membuat pantat cukup pegal. Sebenarnya batu batu ini tertata cukup rapi di sepanjang badan jalan menuju ke tempat parkir yang terakhir. Cuma karena medan jalan yang menanjak dan di beberapa titik terdapat tikungan yang cukup tajam cukup membuat jantung berdegup kencang bagi siapapun yang melewatinya.
Jalan batu ini membelah melewati kebun kopi dan kebun sayur milik penduduk. Awalnya pemandangannya pun biasa-biasa saja. Tetapi setelah melewati tanjakan-tanjakan extrem , pemandangan alam dari Desa Tawangsari pun bisa anda lihat karena jalan batu ini telah sampai di ketinggian yang cukup untuk melihat pemandangan ke bawah. Dari sini medan jalan kembali datar. Beberapa saat kemudian jalan batu ini pun membawa anda ke tempat parkir yang terletak di ketinggian 1125 Mdpl. Di tempat parkir ini telah tersedia bangunan dari kayu beratap ijuk. Tetapi sama seperti lapangan yang berada di bawah , tak ada petugas khusus yang menjaga tempat ini. Menurut saya pribadi , tempat parkir disini pun rawan dengan pencurian karena posisinya yang berada jauh dari pemukiman maupun lokasi air terjun. Untuk itulah ada baiknya anda menambahkan kunci tambahan pada motor anda dan jangan meninggalkan barang berharga apapun di motor. Atau akan lebih baik jika ada salah satu kawan anda yang mau di tinggal  di tempat ini untuk menjaga motor.

area parkir

Okeee…lanjut ke pembahasan …Dari area parkir yang terakhir , perjalanan harus dilanjutkan dengan jalan kaki alias tracking…siapkan stamina dan air minum , karena jalan yang dilalui cukup menanjak. Tapi tenang kawan , anda pasti akan senang karena suasana dan pemandangan yang di sajikan di sepanjang perjalanan bener-bener masih alami. Dari tempat parkir motor kembali anda harus berjalan menyusuri jalan batu. 
Kira kira 300 meter dari tempat parkir jalan batu pun berakhir setelah melewati tikungan jalan. Jalan pun di gantikan dengan jalan setapak dan cukup melelahkan karena menanjak cukup tajam. Tapi gak lama kok nanjaknya…karena tak sampai 10 menit , anda pun telah sampai di salah satu sisi bukit dan dari sini jalan akan terbagi menjadi dua. Ke kanan adalan turunan jalan yang akan menuntun anda sampai ke bawah air terjun..ke kiri adalah tanjakan jalan untuk menuju puncak bukit di mana pemandangan Curug Surodipo bisa di lihat dari kejauhan dari atas bukit.

Jalan ke kanan merupakan jalan dengan medan menuruni bukit. Jalan ini telah dibuat anak tangga terbuat dari gundukan tanah yang di tahan oleh batang bambu ntuk memudahkan pengunjung yang datang. Begitu anda menuruni jalan ini , pemandangan ngarai dari dua bukit yang mengapitnya terlihat begitu indahnya dengan jurang yang cukup dalam. Di sela dua bukit inilah mengalir air sungai bentukan dari air terjun. Tapi tak jarang juga dari atas bukit menyembur air membentuk air terjun kecil dengan debit air yang kecil. Karena menyembul dari ketinggian yang cukup tinggi , sehingga terlihat seperti benang putih kecil mengelantung di antara warna hijau pepohonan….cantik sekali. Dan tak perlu lama kawan , 5 menit berjalan menuruni jalan setapak ini dan sampai dibawah lembah ditepi sungai , terlihat air terjun yang di maksud….inilah Curug Surodipo itu..

curug surodipo

Curug ini hanya terlihat sebagian saja karena masih tertutup oleh bukit. Tapi setelah berjalan mendekat , anda akan melihat bentuk keseluruhan dari air terjun ini dengan jelas. Curug ini memiliki debit air yang cukup deras dan tak terpengaruh oleh musim. Karena itulah saat musim kering pun air terjun ini masih terlihat mengalirkan air dengan cukup deras. Apalagi ketika anda berjalan mendekat ke bawah air terjun. Air jatuhan dari atas yang berubah menjadi kabut ini akan langsung membasahi tubuh anda. Terlebih saat arah angin bertiup ke bawah lembah , di jamin deh…dalam sekejap pakaian yang anda kenakan akan langsung basah..hehehe…

curug surodipo
Dasar dari Curug Surodipo ini sendiri berupa batu batu alam dengan berbagai bentuk dan ukuran. Jadi buat anda datang ke sini ingin berenang , jangan harap deh menemukan kolam-kolam untuk melakukannya di sini…karena landskape dari sungai hasil bentukan dari air terjun ini sendiri berada di kemiringan bukit sehingga jatuhan air dari curug ini langsung di alirkan ke bawah lembah melalui sungai. Tapi tenang kawan , anda masih bisa bermain air di sungai kok…masa iya sih ada yang tidak tertarik dengan beningnya dan kesejukan air dari curug ini. Tapi saya sendiri menyarankan kepada anda agar jangan sekali-kali berenang atau bermain air di sungai ini saat musim hujan. Selain deras , kadang muncul banjir dadakan tak terduga dari atas air terjun.
Soal suasana dari obyek wisata ini secara keseluruhan bisa saya katakan “kereeeeennnnn”. Tak ada kata lain yang tepat untuk mengambarkannya. Selain keren , suasana di sekitar air terjun ini juga tenang dan damai. Tebing setinggi 100 meter-an lebih dimana curug ini terbentuk banyak di tumbuhi tumbuhan hijau yang menyejukan mata yang melihatnya. Ditambah dengan formasi ladang penduduk yang menghijau oleh sayuran menghiasi di sekitar bukit tempat curug ini berada. Semua ini berpadu dengan suara gemuruh air terjun dan sejuknya angin pegunungan….mantaaappppp….
Dan katanya curug Surodipo ini masih memiliki sekitar 5  tingkat air terjun pada aliran sungai selanjutnya dengan jarak antara 15-20 meter antar tingkatan. Tapi entah mata saya yang tidak jeli atau memang tersembunyi , saya sendiri tak melihat tingkatan air terjun yang lainnya saat ke sini…hehehe….air terjun utama dari curug ini sendiri memiliki tinggi sekitar 120 meter dari dasar sampai puncak air terjun. Wooowww….tinggi juga kan guys…berada pada ketinggian 1200 Mdpl , curug ini terbentuk dari pertemuan 2 bukit dengan tebing yang membentuk letter u sehingga tersembunyi dari dunia luar. Di sebut juga dengan nama Curug Trocoh yang berasal dari kosakata bahasa Jawa “Trocoh” yang bila di artikan dalam bahasa Indonesia berarti “Bocor”. Tapi penggunaan kata Trocoh dalam Bahasa Jawa sendiri lebih sering digunakan pada atap atau genting yang “Bocor”. Hal ini sesuai dengan karakteristik dari curug ini yang seperti terbentuk dari Trocph-an atau bocoran dari atas tebing yang tinggi.
Setelah puas menikmati suasana dan bermain air di bawah curug ini , jangan tergesa-gesa untuk pulang kawan. Karena anda bisa mengganti suasana dengan menikmati pemandangan Curug Surodipo ini dari atas bukit. Untuk mencapai puncak bukit yang saya maksud ini , anda harus berjalan menuju pertigaan jalan setapak yang berada di atas sungai. Sampai ke pertigaan ini , anda harus belok ke kanan menyusuri jalan setapak yang membelah padang ilalang. Hanya butuh 10 menit saja dan anda pun akan sampai di puncak bukit  Di sebelah barat dari puncak ini terlihatlah pemandangan Curug Surodipo dari kejauhan lengkap dengan aliran sungainya. Airnya yang deras seperti mengucur dari atas tebing dan jatuh menimpa batu-batu dibawah lembah membentuk sungai yang sangat deras aliran airnya. Dari puncak bukit ini pula tebing yang menjulang tinggi ini terlihat begitu indah dengan lekukan-lekukan dan puncaknya. Ladang penduduk terlihat seperti guratan-guratan garis-garis yang teratur membentuk suatu pola yang unik.
Dari puncak bukit ini pula , tersaji pemandangan lepas ke arah timur. Jajaran perbukitan dan pepohonan yang menghiasinya terlihat menghampar bersatu dengan awan dan birunya langit. Barisan ladang dari penduduk yang di tanami aneka sayuran tak lupa meramaikan suasana. Kadang-kadang pula , angin sejuk bertiup membawa kesegaran. Suasana yang benar-benar jarang di temui di perkotaan…sungguh kawan …puncak bukit ini adalah spot yang nyaman untuk dijadikan tempat nongkrong bersama teman anda. Saat saya tiba di puncak bukit ini , sempat pula terbersit sebuah pikiran untuk camping di atas bukit ini dan merasakan suasana pagi dari tempat ini…yaaahhh….mungkin suatu saat nanti kawan…:-)
Benar-bebar obyek wisata yang menarik…sayang sekali penggembangan dari obyek wisata ini masihlah sanggat minim. Kurang perhatiannya pemerintah daerah Temanggung…dan juga kurang sadarnya penduduk Desa Tawangsari akan manfaat wisata tampaknya menjadi kendala bagi Curug Surodipo ini untukberkembang dan di kenal sebagai mana Curug Lawe dan Benowo dari ungaran , atau Grojogan sewu di Tawangmangu…tapi sisi baiknya adalah tetep terjaganya kealamian dari tempat ini hingga sekarang…bahkan saking alaminya  , jumlah sampah yang ada di obyek wisata bisa di hitung dengan jari. Bener-bener siiipppp dehhh….semoga saja kealamian dan keindahan dari Curug Surodipo ini akan tetap terjaga seiring bertambahnya zaman…

copyright youtu.be
jika kalian kesini

Jangan tinggalkan sampah dan apa pun selain jejak, jangan ambil apapun selain foto, jangan bunuh apapun selain waktu. Nikmati alam sangat dibolehkan, namun bertanggung jawab agar anak cucu juga kita bisa menikmati..!!!!



Categories: Uncategorized

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *